<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dapaloka's Blog</title>
	<atom:link href="http://dapaloka.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dapaloka.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Mar 2011 09:19:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dapaloka.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dapaloka's Blog</title>
		<link>http://dapaloka.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dapaloka.wordpress.com/osd.xml" title="Dapaloka&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dapaloka.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Guru Alo, Potret Seorang Guru Pejuang</title>
		<link>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/18/guru-alo-potret-seorang-guru-pejuang/</link>
		<comments>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/18/guru-alo-potret-seorang-guru-pejuang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 05:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dapaloka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dapaloka.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang mata anak manusia menerawang di antara reng atap rumahnya yang tak berplafon. Reng-reng itu dihiasi sarang laba-laba berwarna hitam diterpa asap dapur. Tatapannya seakan menghantar dia ke peziarahan masa silam dan impian masa depan menembus seng atap rumah yang sudah karatan dimakan usia. Sejenak kemudian kedua mata itu beralih pandangan ke dinding bambu ruang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dapaloka.wordpress.com&amp;blog=5524302&amp;post=27&amp;subd=dapaloka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><span style="font-size:14pt;">Sepasang mata anak manusia menerawang di antara reng atap rumahnya yang tak berplafon. Reng-reng itu dihiasi sarang laba-laba berwarna hitam diterpa asap dapur. Tatapannya seakan menghantar dia ke peziarahan masa silam dan impian masa depan menembus seng atap rumah yang sudah karatan dimakan usia. Sejenak kemudian kedua mata itu beralih pandangan ke dinding bambu ruang tamu. Pada dinding reot itu tergantung sebuah salib Tuhan Yesus pemberian seorang misionaris Eropa. Selama beberapa menit tatapan itu tidak beralih dari salib yang berhias daun palma dari upacara Minggu Palma atau minggu daun-daun tahun lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Sepasang mata yang sudah rabun itu adalah milik Aloysius Bulu Malo (66 thn), seorang pensiunan guru SD asal Paroki Kristus Raja Waimangura, Sumba Barat-NTT. Kepada Yesus yang bergantung di salib, Guru Alo, demikian ia disapa seakan ingin menyerahkan jejak-jejak peziarahan dan impiannya yang entah kapan akan ia tuntaskan. Usianya belum terbilang uzur namun penyakit yang dideritanya menyebabkan kondisi badannya lemah dan banyak tak berdaya. <span id="more-27"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Sejak delapan tahun lalu ia menderita sebuah penyakit yang tak kunjung sembuh. Disekujur lehernya tumbuh benjolan-benjolan yang menyebabkan kepalanya pusing, tidak bisa menelan makanan karena di dalam kerongkongannya juga tumbuh benjolan itu. Belum lagi benjolan di luar menggencet kerongkonannya. Oleh dokter mahkluk ini divonis sebagai tumor ganas. Upaya pengobatan sudah dia lakukan. Bahkan guru Alo harus merelakan lehernya disayat-sayat pisau dokter bedah beberapa kali. Namun tidak lama setelah dioperasi, tumbuh lagi benjolan dengan karakter yang sama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Dokter yang merawatnya menganjurkan untuk berobat ke Rumah Sakit besar di Pulau Jawa, tetapi karena situasi perekonomian yang tidak memungkinkan, ia sepertinya tidak menghiraukan anjuran itu. Penyembuhan alternative kemudian ditempuhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, Guru Alo dengan ditemani isterinya Theresia Bela (58 thn) harus rela meninggalkan rumah dan pekerjaan untuk berobat di rumah orang yang dipercaya bisa menyembuhkan. Sudah silih berganti orang yang menangani penyakitnya. Biaya yang dikeluarkan pun untuk ukuran Guru Alo sudah sangat besar. Upaya ini pun tidak juga menyudahi gerayangan penyakit itu. Kini guru Alo ditemani istrinya dan dua putrinya terus mengonsumsi obat-obatan tradisional dengan harapan kesembuhan akan segera tiba. Harapan ini selalu dibawanya dalam doa kepada Yesus yang ia yakini paling tahu apa yang terbaik bagi dirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Mencintai Profesi Guru</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Sepenggal cerita ini baru merupakan satu sisi perjuangan hidup guru Alo. Mungkin, secara kebetulan penderitaan atau lebih tepat perjuangan tersebut ia alami dalam profesinya sebagai guru, sebuah profesi yang sangat ia cintai “Sangat kebetulan saya menderita penyakit ini dan tidak mampu mengobatinya dalam profesi saya sebagai guru. Saya sangat mencintai profesi ini,” ungkapnya bersemangat seolah melupakan sakitnya ketika disinggung profesi yang secara materi tidak menjamin kesejahteraan itu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Pengalaman kurang memuaskan selama menjadi guru tidak menyebabkan ia kapok pada jalur “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” ini. Dari pernikahannya dengan Theresia Bela, mereka dikaruniai 10 orang anak : 4 laki-laki dan 6 perempuan. Uniknya, enam anaknya ia sekolahkan menjadi guru. Yang lain ada yang jadi wartawan, pegawai swasta dan pegawai kantor pemerintah. Ketika ditanya mengapa mau sebagian anaknya ia sekolahkan menjadi guru, kakek dari 12 cucu ini mengatakan, “Supaya tidak percuma saya disekolahkan <em>dawa kaka</em> (misionaris Eropa). Saya beruntung disekolahkan, maka saya harus membalasnya dengan juga mendidik calon guru untuk mendidik orang-orang lain di sekitar sini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Niatnya untuk ambil bagian dalam pendidikan bagi masyarakat di sekitarnya—yang memang tingkat pendidikannya masih rendah—telah ia buktikan. Bahkan karena begitu besarnya niat ini, ketika putranya yang ke 2 menyelesaikan studinya pada IKIP Sanata Darma Yogyakarta 1983 (kemudian jadi universitas) dan ingin bekerja di Jakarta, dengan bijaksana dan sedikit memaksa ia katakan, “Nak, kamu lihat sendiri orang-orang di sini. Mereka masih membutuhkan pengetahuan dan tenagamu. Di Jawa kan sudah terlalu banyak orang pintar. Kembali saja ke kampung untuk mendidik saudara-saudara kita.” Mendengar itu, sang putra mengurungkan niatnya walau sudah mendapat tawaran bekerja pada sebuah SMU Swasta terkemuka di Jakarta. Hingga kini anaknya ini mengajar di sebuah SMA Katolik di Sumba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Kalau dihitung-hitung, gaji Guru Alo tidak mungkin cukup membiayai hidup keluarga, menyekolahkan anak apalagi ia harus keluar masuk rumah sakit. Tidak hanya itu, gajinya yang kurang dari cukup itu kerap kali mengalami pemotongan yang tidak jelas alasannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Lantas apa kiatnya? Selain bekerja sebagai guru, bersama istrinya Guru Alo menggarap sebidang kebun yang ditanami padi, jagung, singkong, talas dan bermacam-macam kebutuhan dapur. Dengan begitu ia dapat mengirit pengeluaran untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Ia juga tidak segan-segan ikut kerja kelompok bersama para petani setempat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Selain itu Guru Alo menerapkan “sistem estafet” pada anak-anaknya. Maksudnya, anak pertama diserahi tanggung jawab atau diajak untuk menanggung sebagian biaya studi bagi adiknya. Sistem yang sama ia terapkan kepada anaknya yang kedua, ketiga dan seterusnya. “Saya sudah menerapkan semacam gerakan orang tua asuh,” ungkapnya bangga “Kalau tidak mencoba berbagai cara, pasti ada anak saya yang tidak sekolah dan in merupakan dosa besar yang harus saya tanggung. Mereka adalah buah kasih Allah yang harus saya pertanggung-jawabkan kualitasnya di hadapan Allah,” ungkap pencinta tanaman ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Memang, pepatah kuno yang mengatakan <em>life is a struggle</em> (hidup adalah sebuah perjuangan) sangat tepat bagi Guru Alo. Betapa tidak? Dengan mata telanjang dapat kita saksikan banyak orang seusianya yang perjuangannya enteng-enteng saja namun bisa mengendarai mobil mewah, memiliki rumah luks dengan peralatan canggih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Bila Guru Alo membandingkan dirinya tanpa refleksi, bisa jadi ia patah semangat. Sekali lagi, karena banyak orang tidak bekerja keras namun berpenghidupan makmur. Melihat dunia sekitarnya, Guru Alo bercermin pada Firman Allah yang mengatakan “RancanganKu bukanlah rangcanganmu.” “Firman ini kekuatan saya,” ungkapnya sambil menatap foto wisuda anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Tidak Menuntut Lebih</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Satu lagi kisah menarik nan memilukan terukir dan tak terlupakan dalam hidup Guru Alo. Waktu itu tahun 1960 an. Pada sekitar tahun itu Sumba menjadi langganan kelaparan. Yang terparah adalah tahun 1963. Sebuah bencana dahsyat menghantam Sumba dengan sangat dahsyat. Pertanian tidak menghasilkan, ditambah lagi dengan merebaknya serangan hama belalang. Sangat sulit mendapatkan makanan. Jangankan beras, ubi-ubian menjadi barang langka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Masyarakat merelakan ternaknya ditukar dengan makanan, walau hanya untuk mendapatkan beberapa kilogram padi atau jagung. Tidak terkecuali keluarga guru Alo. Meski demikian Guru Alo tetap setia menjalankan tugasnya, mengajar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Pada suatu hari ketika pulang dari sekolah istrinya memberitahukan bahwa persediaan makanan telah habis dan kedua anak mereka tampak lemas. Dengan perut yang juga kelaparan ia mengambil parangnya dan sebatang linggis lalu berjalan menuju ke sebuah hutan sekitar 2 km dari rumahnya. Dalam perjalanan ia berdoa katanya,”Tuhan beri aku rezeki hari ini. Aku tidak menuntut lebih, cukupkanlah diriku dengan beberapa buah ubi hutan,” ungkapnya penuh harap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Ketika tiba di hutan yang dituju, setelah mencari-cari, ia menengadahkan wajahnya ke atas pepohonan. Setelah beberapa lama ia menemukan utas ubi hutan yang disebut <em>engala </em>meranggas di pohon nangka. Hatinya gembira karena dengan itu ia dapat menyelamatkan anak-anaknya. Guru Alo lalu mulai menggali. Engala adalah jenis ubi yang umbinya panjang dan menukik ke dalam tanah. Setelah menggali cukup dalam dia belum menemukan ujungnya. Mau dipatahkan, sayang. Guru Alo terus menggali namun ujung ubi itu tidak muncul juga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Kemudian ia menggambil seutas tali hutan, diikatkan pada pergelangan kakinya kemudian dikaitkan pada dahan pohon untuk menahan tubuhnya ketika menggali. Kepala dan bahunya tenggelam dalam tanah. “Jika saja tali itu putus maka saya pasti terkubur dengan kepala terbalik dan sulit ditemukan,” kenangnya haru. Akhirnya ubi itu ia peroleh utuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Sementara ia mengumpulkan hasil galiannya, gerimis turun. Tiba-tiba terdengar guntur bergemuruh, kilat sabung-menyabung dan sekonyong-konyong sebuah petir menyambar sebuah tebing batu yang hanya beberapa meter dari tempatnya ia duduk. Tebing itu terbelah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Guru Alo hanya mengurut dada kemudian bergegas pulang. Sesampai di rumah ia hanya mengatakan, “Syukur kepada Allah. . . .!”. <span> </span>Sambil meneteskan air mata ia memeluk anak-anaknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17pt;"><span style="font-size:14pt;">Sejumlah tantangan telah Guru Alo lewati dengan jiwa besar. Karenanya, walau dalam keadaan sakit ia merasakan kepuasannya yang tak terhingga. Dalam kondisi sulit ia setia pada tugas profesinya dan sukses menyekolahkan anak-anaknya. Lebih jauh dari itu, matanya selalu tertuju pada Salib. Ya, di balik penderitaan dan perjuangannya tersimpan kebahagiaan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:14pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:14pt;">* Pernah dimuat di Majalah BAHANA tahun 1998. Guru Alo sudah meninggal pada 16 Januari 2001 karena penyakit yang disebutkan di atas.</span></em><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dapaloka.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dapaloka.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dapaloka.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dapaloka.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dapaloka.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dapaloka.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dapaloka.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dapaloka.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dapaloka.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dapaloka.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dapaloka.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dapaloka.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dapaloka.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dapaloka.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dapaloka.wordpress.com&amp;blog=5524302&amp;post=27&amp;subd=dapaloka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/18/guru-alo-potret-seorang-guru-pejuang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4b910c5b020b9da5717c5b6e5686f946?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dapaloka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>La Rende Abadi dengan Kuda Sumba</title>
		<link>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/17/ir-umbu-mehang-kunda-bupati-sumba-timurla-rende-abadi-dengan-kuda-sumba/</link>
		<comments>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/17/ir-umbu-mehang-kunda-bupati-sumba-timurla-rende-abadi-dengan-kuda-sumba/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 13:34:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dapaloka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dapaloka.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Ungkapan “kematian datang seperti pencuri di waktu malam” kian menemui kebenaran. Tanpa diduga-duga, Umbu Mehang Kunda, bupati Sumba Timur kembali ke haribaan Sang Pencipta secara tak terduga. Bayangkan! Baru dua hari Sylvia Anggraeni, istri Umbu Mehang yang tengah berada di Jakarta pulang ke Sumba. Menurut rencana, Mehang bersama istri dan keluarga akan menghadiri pemakaman seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dapaloka.wordpress.com&amp;blog=5524302&amp;post=20&amp;subd=dapaloka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Ungkapan “kematian datang seperti pencuri di waktu malam” kian menemui kebenaran. Tanpa diduga-duga, Umbu  Mehang Kunda, bupati Sumba Timur kembali ke haribaan Sang Pencipta secara tak terduga. Bayangkan! Baru dua hari Sylvia  Anggraeni, istri Umbu Mehang yang tengah berada di Jakarta pulang ke Sumba. Menurut rencana, Mehang bersama istri dan keluarga akan menghadiri pemakaman seorang kakaknya yang baru saja meninggal. Tapi apa yang terjadi? Sehari atau bahkan beberapa jam sebelum jadwal pemakaman sang kakak (pada 2 Agustus), Umbu  Mehang justru menghembuskan nafasnya yang terakhir<span> </span>pada 1 Agustus dini hari sekitar pukul 1.05 Witeng di klinik Immanuel, Waingapu, Sumba Timur. <span> </span>“Saya sama sekali tidak menyangka Pak Mehang akan pergi. Bahkan mungkin dia sendiri tidak menyangka,” ujar Sylvia ketika dihubungi via telepon selulernya.<span id="more-20"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Tanpa pesan apa pun, dengan didampingi istri dan beberapa kerabat lain, Mehang pergi meninggalkan sejuta cita-cita dalam membangun Kabupaten Sumba Timur yang ia pimpin selama dua periode berturut-turut. Periode ke-2 akan berakhir pada tahun 2010. Menurut rencana, ayah tiga anak dan kakek dari enam cucu itu akan dimakamkan pada Jumat, 8 Agustus di kampung halamannya, Kampung Rende, sekitar 75 KM dari Kota Waingapu. Dalam bahasa Sumba Timur, <em>La Rende </em>berarti “kembali ke Rende”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis, <em>La Rende</em> <span> </span>berarti “tidak pernah menyerah”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Betapa Sylvia tidak berkata, “tidak menyangka kepergian Mehang <span> </span>tersebut?” Malam itu almarhum baru saja meresmikan pembukaan Taman Hiburan Rakyat (THR) yang akan berlangsung sebulan penuh di Kota Waingapu untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI yang ke-63. Seperti biasa dalam sambutannya ia tampak serius tapi santai. Dengan penuh humor dan gaya bicara ceplas-ceplos dia membuat ribuan orang yang menghadiri pembukaan THR itu tergelak-gelak. “Kepala  Dinas Parawisata, supaya jangan ada yang mandi jorok-jorok dengan celana panjang di kolam taman wisata, siapkan saja celana. Tapi masa sih, mereka <em>nggak</em> punya celana?” ungkapnya sambil tertawa, diikuti tawa hadirin. Setelah itu dia masih menyempatkan diri melihat-lihat pameran sambil mengajak peserta pameran untuk bekerja sungguh-sungguh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Dia lalu mengajak stafnya untuk makan malam bersama di THR. Sekitar pukul 20.00 Witeng dia bergegas pulang ke rumah jabatan untuk selanjunya berangkat ke Rende. Karena ia mengeluh perutnya terasa kembung, sang istri memintanya untuk istirahat di rumah saja. Dokter juga menganjurkan hal yang sama. Tapi ternyata, kembungnya bertambah sehingga dia dibawa ke klinik terdekat. Tanpa diduga-duga, sekitar pukul 1 dini hari dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.<span> </span>“Dia tidak punya sakit yang serius. Waktu <em>check up</em> bulan lalu dia sehat-sehat saja. Tapi kok bisa begini?” tanya Sylvia retoris serasa tak percaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Sebelum menjabat sebagai bupati Sumba Timur, pria kelahiran Rende, 14 Februari 1951 ini adalah anggota DPR RI (1987-2000) dari Partai Golkar, wilayah pemilihan NTT. Sebelum itu<span> </span>alumni Fakultas Pertanian Universitas Kristen Satya wacana (UKSW) Salatiga ini menjabat sebagai Kepala Sub Dinas Perkebunan NTT.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Terinspirasi</strong><strong> Kakek</strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span> </span>Sebagai anak yang lahir di kampung yang jauh dari kota—apalagi pada tahun 50-an boleh dikatakan belum ada pembangunan yang berarti di kampungnya—Mehang tumbuh dalam atmosfer<span> </span>hidup para peternak tradisional. Masyarakat di kampungnya, bahkan anak-anak seusianya waktu itu memiliki kebiasaan menanam jagung di pinggir daerah aliran sungai. Meski dia berasal dari keluarga berada dan berdarah biru atau <em>maramba, </em>Mehang tetap lebur dalam kebiasaan yang ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Dia juga menanam dan menyiram jagung. Dari hasil kerja keras tersebut dia membeli ayam yang kemudian ketika sudah besar dia jual untuk membeli kuda. “Untuk langsung beli kuda, kan tidak punya uang. Jadi harus kerja dulu,” ungkapnya dalam sebuah bincang-bincang dengan penulis beberapa hari setelah peresmian kain tenun ikat Sumba terpanjang pada 10 Januari 2008 lalu. Kain ini kemudian masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kain tenun ikat terpanjang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Sangat pasti orangtua dan kakeknya memiliki cukup banyak ternak, bahkan mencapai ribuan ekor. Tapi dia tetap berusaha bisa membeli sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Ketika kecil, Mehang tinggal bersama kakek sebab ayahnya meninggal saat dia baru berusia 5 tahun. Dalam kesempatan tinggal bersama sang kakek itulah, Mehang belajar banyak soal semangat dasar menjadi seorang pemimpin. “Seorang pemimpin tidak boleh aman-aman dalam kenyamanan pribadi,” ungkapnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Saat itu,<span> </span>ketika mengetahui ada warga kampungnya yang kesusahan atau kelaparan, sang kakek tampak gelisah. Dia lalu menukar hewannya dengan beras di toko untuk dibagi-bagi kepada yang kelaparan. “Gaya seperti inilah yang coba saya lakukan, meski tidak bisa seratus persen sebab zaman telah berubah,” tambah satu-satunya bupati di Indonesia yang menerapkan bebas uang sekolah kepada siswa SD-SMA di kabupatennya baik sekolah swasta maupun negeri ini lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Mehang memang tidak bisa membagi-bagi beras kepada rakyat di kabupaten terluas di Pulau Sumba itu. Tapi dia selalu berusaha hadir dalam kejelataan rakyatnya. Bahkan ketika ada yang ingin bertemu, dia selalu melayani meski sudah larut malam. “Kalau tidak sangat penting, tidak mungkin mereka berani menelepon dan ingin ketemu bupati, apalagi pada larut malam. Jadi saya harus layani mereka,” ungkapnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Dalam masa kepemimpinannya, dia selalu memompakan semangat kerja keras kepada rakyatnya. Dia sadar betul bahwa untuk menaklukkan bumi Sumba yang kering harus ada semangat kerja keras yang ekstra. “Jangan malas! Tidak ada tempat bagi orang malas di hati saya dan di Sumba Timur,” ungkapnya menyemangati. <span> </span>Dia tampaknya sepakat dengan sepenggal syair salah satu puisi Rendra:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><em>Hidup bukanlah untuk mengeluh dan mengaduh</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><em>Hidup adalah untuk mengolah hidup</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><em>Bekerja membalik tanah</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><em>Memasuki rahasia langit dan samudera</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><em>Serta mengukir dan mencipta dunia.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;">Ya, dengan kuda Sumba, Umbu Mehang  Kunda telah pulang ke Rende. Di sana dia dimakamkan, menuntaskan kerinduannya untuk tetap berada dalam pelukan tanah Sumba, negeri Sabana. Selamat jalan ke Rende Abadi. Ya, <em>La Rende</em> Abadi dengan Kuda Sumba. <em>Requiescat in Pace! </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><em>(Pos Kupang, 6 Agustus 2008)<br />
</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dapaloka.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dapaloka.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dapaloka.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dapaloka.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dapaloka.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dapaloka.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dapaloka.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dapaloka.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dapaloka.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dapaloka.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dapaloka.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dapaloka.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dapaloka.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dapaloka.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dapaloka.wordpress.com&amp;blog=5524302&amp;post=20&amp;subd=dapaloka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/17/ir-umbu-mehang-kunda-bupati-sumba-timurla-rende-abadi-dengan-kuda-sumba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4b910c5b020b9da5717c5b6e5686f946?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dapaloka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dr. rer. nat. Kebamoto, Berkat Keinginan Menebus Kemiskinan</title>
		<link>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/15/dr-rer-nat-kebamoto-berkat-keinginan-menebus-kemiskinan/</link>
		<comments>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/15/dr-rer-nat-kebamoto-berkat-keinginan-menebus-kemiskinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 03:45:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dapaloka</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dapaloka.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Tanpa baju seragam dan bertelanjang kaki. Tidak mandi pagi saat berangkat sekolah karena terlalu dingin. Lalu ketika perut sudah lapar pada siang hari, ia hanya makan buah mangga dari kebun teman dekat sekolah. Sepulang sekolah dengan kaki-kaki mungil dan kulit legam ia bermain bersama teman-teman di padang rumput. Dan ketika hari sudah sore,dia pulang ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dapaloka.wordpress.com&amp;blog=5524302&amp;post=10&amp;subd=dapaloka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p>Tanpa baju seragam dan bertelanjang kaki. Tidak mandi pagi saat berangkat sekolah karena terlalu dingin. Lalu ketika perut sudah lapar pada siang hari, ia hanya makan buah mangga dari kebun teman dekat sekolah. Sepulang sekolah dengan kaki-kaki mungil dan kulit legam ia bermain bersama teman-teman di padang rumput. Dan ketika hari sudah sore,dia pulang ke rumah setelah makan seadanya—bisa jadi hanya makan ubi—lalu tidur. Belajar? Tidak mungkin sebab tidak punya buku. Modalnya hanya “dengar-dengar” di kelas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span id="more-10"></span>Pernah karena keasyikan bermain bersama teman-teman di padang, ia sempat bolos sekolah selama dua minggu. Akibatnya, begitu <em>nongol </em>kembali ke sekolah, oleh gurunya dia langsung dijemput dengan hukuman berlutut di atas pecahan batu tajam selama beberapa jam sampai kakinya berdarah-darah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Setidaknya begitulah gambaran masa kecil Dr. Kebamoto, dosen Fakultas MIPA UI yang lulusan Universitas Munchen, Jerman selama menjalani masa SD di kampung halamannya, Waikabubak, Sumba Barat, NTT pada era tahun 1970-an. Dia anak yang sangat miskin fasilitas. Maklum, kedua orang tuanya miskin dan buta huruf.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Bukan hanya dirinya atau keluarganya yang miskin. Masyarakatnya memang miskin. Gedung sekolah yang dibangun masyarakat hanya beratap ilalang dengan seluruh bahan bangunan, bangku dan meja dari kayu dan bambu. Konstruksi bangunan pun ala kadarnya sehingga pernah roboh diterpa angin. Akibatnya kegiatan sekolah sempat dipindahkan ke kantor desa, kemudian pindah ke gedung gereja yang juga terbuat dari ilalang. Suatu hari ketika diterpa angin yang agak kencang, gereja pun roboh sehingga masyarakat kembali membangun gedung SD yang ternyata kemudian roboh juga. Beruntung setelah itu ada proyek pembangunan gedung SD Inpres.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Kebamoto, seperti teman-teman sebayanya benar-benar tumbuh “apa adanya” tanpa motivasi dan arahan apa pun. Mestinya bacaan seperti koran atau buku bisa menjadi sumber motivasi. Tapi apa boleh buat! Kedua medium ini masih menjadi barang langka kala itu. “Waktu itu koran adalah barang mewah sebab hanya pejabat tinggi yang bisa membacanya,” kenang anak keempat dari lima bersaudara ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Kalau pun sempat <em>nemu</em> koran bekas, pasti hanya carikan tidak utuh yang tentu saja sulit dibaca karena sobekannya tidak teratur. Meski begitu, Kebamoto tetap berminat membaca koran yang telah menjelma menjadi sampah itu. Ternyata “sampah” tersebut mampu membuka wawasan ayah dua anak ini bahwa ada dunia lain di luar kampungnya. Pengalaman ini kemudian semakin memacu dia untuk tidak melewatkan setiap sobekan koran yang dia jumpai, juga rajin membaca buku-buku paket yang tidak seberapa di sekolahnya. “Dari buku paket itu saya lihat foto reaktor nuklir, lalu berangan-angan suatu waktu bekerja sebagai ahli nuklir,” jelas penemu <em>Hard Coating Nano Composite—</em>suku cadang yang lebih keras dari intan dan bisa dipakai sebanyak 3000 kali. <em>Spare part</em> ini dipasang atau dilapiskan pada alat potong <em>(cutting tools)</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">“Jujur saja, saat itu saya saksikan kemiskinan di kampung saya dan saya ingin menebus kemiskinan itu. Makan enak saja tidak pernah. Ini yang membuat saya rajin membaca,” jelas Kebamoto.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Ada kebiasaan dalam masyarakatnya, semiskin apa pun sebuah keluarga, kalau kedatangan tamu terhormat, dia akan menjamu minimal dengan makan siang atau makan malam. Setidaknya sang tuan rumah harus menyembelih seekor ayam. Setelah dimasak, semua daging ayam itu diberikan kepada sang tamu. Tuan rumah hanya kebagian sayap dan cakarnya saja. “Jadi kita anak-anak hanya nonton saja,” kata Kebamoto.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Dalam segala keterbatasan, Kebamoto tumbuh. Namun yang “mengherankan”, selama di bangku SD-SMA dia selalu mendapat nilai bagus, sehingga para gurunya menganjurkan kepada orangtuanya agar mereka mengirim Kebamoto ke Perguruan  Tinggi. Dia beruntung, kedua orang tuanya mengikuti anjuran tersebut. Dengan demikian, Kebamoto mendapat “keistimewaan” luar biasa di antara saudara-saudaranya yang lain. Sebab ketiga kakaknya putus sekolah. “Rupanya, memang begitulah rencana dan jalan Tuhan buat saya,” ungkapnya singkat soal keistimewaan ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Selepas SMA, entah dari mana sumbernya, beredar berita di seantero Sumba bahwa seseorang yang bernama Kebamoto adalah anak yang sangat pintar bahkan jenius dengan nilai rata-rata sepuluh. Dia lalu menjadi pembicaraan di sekolah, pasar, mata air, kantor-kantor pemerintahan dan di tempat-tempat lain. Sejumlah wartawan silih berganti datang mewawancarai orang tuanya. Ini menyebabkan berita itu tersebar hampir ke seluruh NTT.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Kian hari, berita ini kian meluas, bahkan ada yang “kreatif” membuat cerita bahwa setiap kali pulang kampung Kebamoto selalu menggunakan helikopter buatan sendiri. Ini semua karena Kebamoto pintar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span> </span>Tentu saja berita semacam ini berlebihan, terutama soal menggunakan helikopter buatan sendiri. Tapi apa mau dikata? Berita tersebut sudah terlanjur membangun citra bahwa seorang Kebamoto adalah orang “super pintar”. Berita ini pun sampai ke telinga Kebamoto dan sempat membebani pikirannya. “Bagaimana jadinya kalau saya tidak sempat jadi sarjana?” tanya pria kelahiran Sumba Barat, 25 Januari 1<span lang="EN-GB">963 ini</span> dalam hatinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Untungnya, predikat super yang dikenakan padanya memicu semangatnya untuk tekun belajar. “Saya sangat bersyukur tidak ada kesulitan dalam perolehan nilai akademis,” akunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Bahkan, karena prestasi akademisnya memuaskan, ketika duduk di bangku tingkat II Fakultas Fisika  UI, dia sudah mendapatkan beasiswa dari Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Dan begitu lulus S1, dia langsung diminta menjadi dosen Fisika di almamaternya. Kemudian, Prof. Dr. Parangtopo yang memintanya menjadi dosen menyeponsorinya melanjutkan S2-nya di  UI, lulus tahun 1992.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Setelah menamatkan jenjang S2, semangat Kebamoto untuk melanjutkan S3 membuncah dan mematok syarat, harus di luar negeri. Melalui perjuangan yang melelahkan dan sempat membuatnya putus asa, Kebamoto akhirnya mendapat kesempatan merebut S3 di Universitas Munchen, Jerman. Berkat ketekunan yang luar biasa, dalam rentang waktu yang sangat singkat (2,5 tahun), dia sudah menuntaskan kuliahnya dan berhak menyandang gelar doktor dengan predikat <em>magna cum laude </em>pada tahun 2001. Disertasi berjudul <em>Preparation and Characterization of Novel Super &#8211; and Ultrahard Nanocomposites and Investigation of Their Mechanical Properties</em>. Sekadar informasi, seorang doktor ilmu alam di Jerman mendapat gelar <em>rer.nat, </em>kepanjangan dari <em>rerum naturalium<strong> </strong></em>atau <em>doctor of natural sciences<strong>. </strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Waktu tempuh studi 2,5 tahun untuk tingkat doktoral pada Fakultas  Kimia semakin menegaskan bahwa Kebamoto memang termasuk mahasiswa yang cerdas dan percaya diri. “Konon, kata teman yang berkebangsaan Jerman, mahasiswa yang paling pintar saja, paling cepat tiga tahun<span> </span>di Fakultas Fisika, bukan di Fakultas Kimia di mana saya belajar,” kata penulis buku <em><span lang="IT">Gelombang Nanoteknologi</span></em><span lang="IT"> ini</span>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Dengan kualifikasi kelulusan dan waktu tempuh kuliah yang singkat, Kebamoto diminati oleh beberapa universitas dan lembaga lain di Jerman dan Amerika. Dia sempat bekerja di Jerman  Selatan dan mendapat gaji yang menggiurkan. Namun setengah tahun kemudian dia memutuskan pulang ke Indonesia dan menjadi dosen di Fakultas MIPA UI.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Kini, selain mengajar dan menulis belasan buku, ratusan artikel dan melakukan puluhan penelitian dan publikasi internasional, Kebamoto secara khusus mengabdikan sebagian waktu, tenaga, semangat dan pikirannya untuk memberdayakan manusia muda NTT.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Sejak tahun 2004 dia terjun langsung ke sekolah-sekolah di NTT atau melalui kerjasama dengan pemerintah setempat, dia melatih para siswa dari tingkat SD-SMA tentang bagaimana belajar pada umumnya dan belajar Fisika khususnya. Selain itu dia juga melatih ribuan guru tentang metode mengajar yang efektif dan menyenangkan di mata para murid.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Hasilnya? Pada tahun 2004 siswa <span lang="IN">SD yang dilatihnya memeroleh 1 medali perunggu untuk Matematika dan <em>Honorable Mention</em> untuk IPA dalam Olimpiade Sains tingkat nasional. Pada tahun 2005, dalam lomba Matematika tingkat Internasional di Bali anak SD asuhannya dari NTT mendapat 1 medali emas, 3 medali perunggu. Pada saat yang sama, anak yang memeroleh medali emas tersebut mendapat Satya Lencana dari Presiden SBY. Sedangkan untuk tingkat SMA, anak asuhnya yang berasal dari Sumba Timur berhasil merebut 1 perunggu dan kemudian berhasil masuk ITB. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Kemudian secara berturut-turut anak-anak terus meraih prestasi membanggakan. Bahkan grafik kelulusan di universitas favorit di pulau Jawa meningkat. Pada tahun 2005 misalnya, <span> </span>4 anak dari Kabupaten Manggarai (Flores Barat) dan 1 dari Kabupaten Ende berhasil masuk UI.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN"><span> </span><span> </span>Pada tahun 2006 anak-anak SD asuhannya memeroleh 1 perak dan 2 perunggu, SMP (1 perunggu). Pada 2007 anak-anak asuhnya memeroleh<span> </span>3 medali perak dan 3 medali perunggu (semuanya tingkat SD).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Yang sangat menggembirakan bagi Kebamoto adalah saat dia menerima berita dari para guru yang ditraningnya bahwa minat belajar pada siswa meningkat setelah para guru mereka mendapat pelatihan. Selain itu, para siswa terpacu untuk berprestasi setelah mengetahui teman-teman mereka berhasil. “Kalau anak-anak di Jakarta yang mendapat medali-medali itu biasa saja bahkan kurang. Tapi ini oleh anak-anak NTT dari berbagai pelosok yang sangat jauh dari fasilitas memadai,” komentarnya menyangkut prestasi tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Saya dulu mengalami masa yang sangat sulit. Masa sih mereka harus mengalami juga masa pahit itu?” tanya Kebamoto retoris menjawab <em>HIDUP</em> sambil melontarkan keinginannya untuk terlibat dalam pembangunan ekonomi kerakyatan di NTT. “Sebab kalau direfleksikan, semua latar belakang dan apa yang saya peroleh hanyalah <em>given. </em>Jadi saya harus berbuat sesuatu,” ungkap pria yang juga gemar menulis cerpen ini mengakhiri bincang-bincang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<h3 style="margin-left:18pt;text-align:center;text-indent:0;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:20pt;line-height:150%;" lang="IT"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></h3>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dapaloka.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dapaloka.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dapaloka.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dapaloka.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dapaloka.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dapaloka.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dapaloka.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dapaloka.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dapaloka.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dapaloka.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dapaloka.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dapaloka.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dapaloka.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dapaloka.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dapaloka.wordpress.com&amp;blog=5524302&amp;post=10&amp;subd=dapaloka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/15/dr-rer-nat-kebamoto-berkat-keinginan-menebus-kemiskinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4b910c5b020b9da5717c5b6e5686f946?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dapaloka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kafe Baca, Alternatif Wisata Makassar</title>
		<link>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/15/kafe-baca-alternatif-wisata-makassar/</link>
		<comments>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/15/kafe-baca-alternatif-wisata-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 03:21:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dapaloka</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dapaloka.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Makassar adalah salah satu kota yang sedang tekun berbenah saat. Ketika penulis bertandang ke kota ini beberapa waktu lalu, terdapat banyak perkembangan yang terjadi dibanding dua tahun lalu. Pintu gerbang (Bandara) masuk ke kota tempat Pangeran Diponegoro pernah diasingkan ini berubah dengan wajah dan tampilan yang jauh lebih memikat. “Very beautiful. I think it’s more [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dapaloka.wordpress.com&amp;blog=5524302&amp;post=5&amp;subd=dapaloka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:18pt;" align="center">
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Makassar adalah salah satu kota yang sedang tekun berbenah saat. Ketika <strong>penulis</strong> bertandang ke kota ini beberapa waktu lalu, terdapat banyak perkembangan yang terjadi dibanding dua tahun lalu. Pintu gerbang (Bandara) masuk ke kota tempat Pangeran Diponegoro pernah diasingkan ini berubah dengan wajah dan tampilan yang jauh lebih memikat. <em>“Very beautiful. I think it’s more confortable,”</em> ungkap Anne, seorang turis asing dari Jerman yang satu pesawat dengan <strong>penulis</strong> dari Jakarta. <span id="more-5"></span></span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Memasuki Kota Makassar berarti memasuki aneka kemungkinan untuk mendapatkan hiburan, meskipun terkesan “itu-itu saja”. Agaknya memang tak tersedia banyak pilihan selain taman rekreasi dan bermain, pusat-pusat belanja, resto dan kafe, atau mungkin juga toko buku. Obyek wisata seperti Pantai Losari, jika tidak segera dilengkapi dengan sarana penunjang akan segera membosankan. </span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Apa yang menyebabkan kurangnya obyek wisata yang representatif? Seorang pengunjung Pantai Losari bernama Uddin mengatakan bahwa hal ini diakibatkan oleh pandangan Pemerintah dan masyarakat yang telah terlanjur terjebak dalam paradigma bahwa obyek wisata itu harus mewah dan mengandung unsur-unsur modern. “Memang kalau tidak mengandung unsur luar negeri, itu bukan obyek wisata? Kalau sarana yang disediakan sudah seperti yang ada di Prancis atau negara-negara maju lain, untuk apalagi para turis itu dating kemari? Dengar saja, musik yang biasa diputar di sini adalah musik barat. Apakah kita tidak punya music sendiri?” tanya Uddin retoris. Aries juga menambahkan bahwa turis lokal pun ingin disuguhi tradisi-tradisi lokal. “Saya sering ditanyai tarian dan lagu-lagu dari kampong saya tapi saya tak bisa menjawab,” ungkapnya lagi.</span></p>
<p class="NoSpacing"><strong><span style="font-size:12pt;"> </span></strong></p>
<p class="NoSpacing"><strong><span style="font-size:12pt;">Kafe-kafe Buku</span></strong></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Pria lajang asal Kabupaten Barrus ini mengharapkan adanya pembenahan yang baik tanpa harus menggusur yang bersifat lokal. Dia lalu menunjuk kreatifitas yang dirintis anak muda berupa kafé-kafé baca di beberapa sudut kota. “Yang mereka lakukan ini tidak merepotkan siapa-siapa. Selain berguna secara ekonomis, mereka ikut mencerdaskan orang-orang di sini. Memang tidak bisa mengharapkan masyarakat langsung suka membaca, tapi harus ada contoh bagi mereka,” tambah pria yang berprofesi sebagai <em>guide </em>ini. </span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Anak-anak muda tersebut mencoba mewujudkan sebuah oase yang mencerdaskan, bersahaja, namun tetap nyaman sebagai tempat rekreasi. Beberapa café bisa menjadi pilihan untuk kebutuhan rekreasi intelektual. Di bagian utara kota Makassar, Kafebuku bisa menjadi pilihan tepat. Kafebuku terletak di Jalan Tentara Pelajar 141, sekitar 50 meter dari Toko Buku Promedia.</span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Di sana pengunjung bisa membaca sambil menikmati aneka jenis sajian. “Di sini tersedia bermacam-macam makanan dan minuman. Bakso, pisang goreng keju, roti bakar serta aneka jenis minuman, dan tentu saja berbagai macam jenis buku,” kata Santy, pemilik Kafebuku, yang masih berstatus mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Tidak jauh dari tempat ini sebuah Warung Coto Makassar menyediakan Coto yang selalu disajikan panas-panas.</span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Tak salah kalau Kafebuku memakai <em>&#8220;A new, cozy place to read and eat&#8221;</em> sebagai <em>tag line</em>-nya. Suasananya memang nyaman, bahkan dilengkapi pendingin udara yang membuat pengunjung nyaman berlindung dari gerahnya cuaca. Di Jalan Dr. Sam Ratulangi No 136, hadir Bookcholicafe. Suasananya pun nyaman dan tenang, sangat cocok bagi pengunjung untuk menyelesaikan sebuah buku sebelum kembali pada rutinitas kantor, kuliah, atau sekolah.</span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Bookcholicafe juga menyediakan aneka jenis minuman dan makanan untuk menemani keasyikan membaca, dengan daya tarik koleksi ratusan buku yang tentu saja tidak akan ditemukan di kafe pada umumnya. Kafe baca yang diasuh oleh Azwar ini, seorang mahasiswa STMIK Karisma Makassar, memang masih terbilang baru, namun menjadi atlernatif berakhir pekan yang mengasyikkan.</span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Buku-buku populer seperti teenlit, chicklit, dan buku-buku how to mendominasi koleksinya. Ini sangat tepat untuk para karyawan dan siswa-siswa SMP dan SMA yang memang banyak berada di seputar jalan utama di kota Makassar ini. Bila membaca sambil menikmati makanan dan minuman belum cukup sebagai pilihan, Rumah Baca Lontarak menawarkan sajian unik: membaca dan membatik.. Terletak di Jalan Monumen Emmy Saelan No 5/43, tempat ini mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda.</span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Menurut Agis, sang pengelola, mereka mengusung ide “Books, Library, and Handycraft”. Selain sebagai rumah baca, Lontarak yang berdiri pada 4 April 2005 ini, juga telah menjadi distributor buku untuk wilayah Makassar. Buku-buku yang tersedia, dijual lebih murah 10 – 25% bila dibandingkan dengan harga di toko buku.</span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Di kawasan timur Makassar yang menjadi tempat berdirinya sejumlah perguruan tinggi, berdiri sejumlah kafe baca yang membidik mahasiswa sebagai konsumen utama. Sebutlah, Hitam Putih di Jalan Perintis Kemerdekaan Km. 9, di Kompleks Perumahan Hartaco Jaya, di samping kampus Universitas Islam Makassar.</span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Sementara tak jauh dari Kampus Universitas Hasanuddin, di Jl Perintis Kemerdekaan No. 76, berdiri Kafe Baca Biblioholic—yang memiliki koleksi 6.000 buku. Bibliocholic yang didirikan 13 April 2003 ini menyediakan aneka minuman, khususnya berbagai jenis kopi yang bisa menjadi teman setia menikmati buku-buku menarik. Dengan ruang perpustakaan yang luas, para pengunjung dimanjakan oleh suasana tenang dan santai untuk menikmati makanan dan minuman sambil membaca.</span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">M. Aan Mansyur, pendiri Bibliocholic dan para pengelola Bibliocholic juga mengadakan kursus penulisan dan diskusi seputar perbukuan, serta aktif menjalankan kegiatan penelitian dan literasi melalui kerjasama dengan komunitas literasi dan penerbitan di kota-kota lainya. Bagi para pencinta sastra dan buku filsafat, Bibliocholic adalah pilihan yang tepat.</span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Tapi selain buku serius, kafe baca ini pun memiliki koleksi komik yang lengkap. Sementara tidak jauh dari pusat keramaian Mall Panakkukang, berdiri Starbook Cafe di Jl. Bougenville No 31 Panakkukang Mas. Tempat baca ini banyak menyediakan buku-buku filsafat di rak koleksinya. Starbook menyediakan aneka makanan dan minuman, mulai dari yang lokal seperti pallu butung sampai yang internasional seperti sandwich.</span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;">Pemerintah Kota Makassar pada bulan Juni 2005 juga telah mencanangkan Gerakan Makassar Gemar Membaca yang salah satu programnya adalah mendirikan taman baca di setiap kecamatan yang ada di Makassar. Bila program ini betul-betul berjalan, maka tidaklah berlebihan mengharapkan Kota Makassar menjelma sebagai lumbung taman bacaan, yang menghadirkan fasilitas rekreasi yang mencerdaskan. </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dapaloka.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dapaloka.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dapaloka.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dapaloka.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dapaloka.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dapaloka.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dapaloka.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dapaloka.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dapaloka.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dapaloka.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dapaloka.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dapaloka.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dapaloka.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dapaloka.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dapaloka.wordpress.com&amp;blog=5524302&amp;post=5&amp;subd=dapaloka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/15/kafe-baca-alternatif-wisata-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4b910c5b020b9da5717c5b6e5686f946?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dapaloka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/15/hello-world/</link>
		<comments>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/15/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 02:45:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dapaloka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dapaloka.wordpress.com&amp;blog=5524302&amp;post=1&amp;subd=dapaloka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dapaloka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dapaloka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dapaloka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dapaloka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dapaloka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dapaloka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dapaloka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dapaloka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dapaloka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dapaloka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dapaloka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dapaloka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dapaloka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dapaloka.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dapaloka.wordpress.com&amp;blog=5524302&amp;post=1&amp;subd=dapaloka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dapaloka.wordpress.com/2008/11/15/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4b910c5b020b9da5717c5b6e5686f946?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dapaloka</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
