Posted by: dapaloka on: November 17, 2008
Ungkapan “kematian datang seperti pencuri di waktu malam” kian menemui kebenaran. Tanpa diduga-duga, Umbu Mehang Kunda, bupati Sumba Timur kembali ke haribaan Sang Pencipta secara tak terduga. Bayangkan! Baru dua hari Sylvia Anggraeni, istri Umbu Mehang yang tengah berada di Jakarta pulang ke Sumba. Menurut rencana, Mehang bersama istri dan keluarga akan menghadiri pemakaman seorang kakaknya yang baru saja meninggal. Tapi apa yang terjadi? Sehari atau bahkan beberapa jam sebelum jadwal pemakaman sang kakak (pada 2 Agustus), Umbu Mehang justru menghembuskan nafasnya yang terakhir pada 1 Agustus dini hari sekitar pukul 1.05 Witeng di klinik Immanuel, Waingapu, Sumba Timur. “Saya sama sekali tidak menyangka Pak Mehang akan pergi. Bahkan mungkin dia sendiri tidak menyangka,” ujar Sylvia ketika dihubungi via telepon selulernya.
Tanpa pesan apa pun, dengan didampingi istri dan beberapa kerabat lain, Mehang pergi meninggalkan sejuta cita-cita dalam membangun Kabupaten Sumba Timur yang ia pimpin selama dua periode berturut-turut. Periode ke-2 akan berakhir pada tahun 2010. Menurut rencana, ayah tiga anak dan kakek dari enam cucu itu akan dimakamkan pada Jumat, 8 Agustus di kampung halamannya, Kampung Rende, sekitar 75 KM dari Kota Waingapu. Dalam bahasa Sumba Timur, La Rende berarti “kembali ke Rende”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis, La Rende berarti “tidak pernah menyerah”.
Betapa Sylvia tidak berkata, “tidak menyangka kepergian Mehang tersebut?” Malam itu almarhum baru saja meresmikan pembukaan Taman Hiburan Rakyat (THR) yang akan berlangsung sebulan penuh di Kota Waingapu untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI yang ke-63. Seperti biasa dalam sambutannya ia tampak serius tapi santai. Dengan penuh humor dan gaya bicara ceplas-ceplos dia membuat ribuan orang yang menghadiri pembukaan THR itu tergelak-gelak. “Kepala Dinas Parawisata, supaya jangan ada yang mandi jorok-jorok dengan celana panjang di kolam taman wisata, siapkan saja celana. Tapi masa sih, mereka nggak punya celana?” ungkapnya sambil tertawa, diikuti tawa hadirin. Setelah itu dia masih menyempatkan diri melihat-lihat pameran sambil mengajak peserta pameran untuk bekerja sungguh-sungguh.
Dia lalu mengajak stafnya untuk makan malam bersama di THR. Sekitar pukul 20.00 Witeng dia bergegas pulang ke rumah jabatan untuk selanjunya berangkat ke Rende. Karena ia mengeluh perutnya terasa kembung, sang istri memintanya untuk istirahat di rumah saja. Dokter juga menganjurkan hal yang sama. Tapi ternyata, kembungnya bertambah sehingga dia dibawa ke klinik terdekat. Tanpa diduga-duga, sekitar pukul 1 dini hari dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Dia tidak punya sakit yang serius. Waktu check up bulan lalu dia sehat-sehat saja. Tapi kok bisa begini?” tanya Sylvia retoris serasa tak percaya.
Sebelum menjabat sebagai bupati Sumba Timur, pria kelahiran Rende, 14 Februari 1951 ini adalah anggota DPR RI (1987-2000) dari Partai Golkar, wilayah pemilihan NTT. Sebelum itu alumni Fakultas Pertanian Universitas Kristen Satya wacana (UKSW) Salatiga ini menjabat sebagai Kepala Sub Dinas Perkebunan NTT.
Terinspirasi Kakek
Sebagai anak yang lahir di kampung yang jauh dari kota—apalagi pada tahun 50-an boleh dikatakan belum ada pembangunan yang berarti di kampungnya—Mehang tumbuh dalam atmosfer hidup para peternak tradisional. Masyarakat di kampungnya, bahkan anak-anak seusianya waktu itu memiliki kebiasaan menanam jagung di pinggir daerah aliran sungai. Meski dia berasal dari keluarga berada dan berdarah biru atau maramba, Mehang tetap lebur dalam kebiasaan yang ada.
Dia juga menanam dan menyiram jagung. Dari hasil kerja keras tersebut dia membeli ayam yang kemudian ketika sudah besar dia jual untuk membeli kuda. “Untuk langsung beli kuda, kan tidak punya uang. Jadi harus kerja dulu,” ungkapnya dalam sebuah bincang-bincang dengan penulis beberapa hari setelah peresmian kain tenun ikat Sumba terpanjang pada 10 Januari 2008 lalu. Kain ini kemudian masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kain tenun ikat terpanjang.
Sangat pasti orangtua dan kakeknya memiliki cukup banyak ternak, bahkan mencapai ribuan ekor. Tapi dia tetap berusaha bisa membeli sendiri.
Ketika kecil, Mehang tinggal bersama kakek sebab ayahnya meninggal saat dia baru berusia 5 tahun. Dalam kesempatan tinggal bersama sang kakek itulah, Mehang belajar banyak soal semangat dasar menjadi seorang pemimpin. “Seorang pemimpin tidak boleh aman-aman dalam kenyamanan pribadi,” ungkapnya.
Saat itu, ketika mengetahui ada warga kampungnya yang kesusahan atau kelaparan, sang kakek tampak gelisah. Dia lalu menukar hewannya dengan beras di toko untuk dibagi-bagi kepada yang kelaparan. “Gaya seperti inilah yang coba saya lakukan, meski tidak bisa seratus persen sebab zaman telah berubah,” tambah satu-satunya bupati di Indonesia yang menerapkan bebas uang sekolah kepada siswa SD-SMA di kabupatennya baik sekolah swasta maupun negeri ini lagi.
Mehang memang tidak bisa membagi-bagi beras kepada rakyat di kabupaten terluas di Pulau Sumba itu. Tapi dia selalu berusaha hadir dalam kejelataan rakyatnya. Bahkan ketika ada yang ingin bertemu, dia selalu melayani meski sudah larut malam. “Kalau tidak sangat penting, tidak mungkin mereka berani menelepon dan ingin ketemu bupati, apalagi pada larut malam. Jadi saya harus layani mereka,” ungkapnya.
Dalam masa kepemimpinannya, dia selalu memompakan semangat kerja keras kepada rakyatnya. Dia sadar betul bahwa untuk menaklukkan bumi Sumba yang kering harus ada semangat kerja keras yang ekstra. “Jangan malas! Tidak ada tempat bagi orang malas di hati saya dan di Sumba Timur,” ungkapnya menyemangati. Dia tampaknya sepakat dengan sepenggal syair salah satu puisi Rendra:
Hidup bukanlah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
Bekerja membalik tanah
Memasuki rahasia langit dan samudera
Serta mengukir dan mencipta dunia.
Ya, dengan kuda Sumba, Umbu Mehang Kunda telah pulang ke Rende. Di sana dia dimakamkan, menuntaskan kerinduannya untuk tetap berada dalam pelukan tanah Sumba, negeri Sabana. Selamat jalan ke Rende Abadi. Ya, La Rende Abadi dengan Kuda Sumba. Requiescat in Pace!
(Pos Kupang, 6 Agustus 2008)
Recent Comments