Posted by: dapaloka on: November 15, 2008
Makassar adalah salah satu kota yang sedang tekun berbenah saat. Ketika penulis bertandang ke kota ini beberapa waktu lalu, terdapat banyak perkembangan yang terjadi dibanding dua tahun lalu. Pintu gerbang (Bandara) masuk ke kota tempat Pangeran Diponegoro pernah diasingkan ini berubah dengan wajah dan tampilan yang jauh lebih memikat. “Very beautiful. I think it’s more confortable,” ungkap Anne, seorang turis asing dari Jerman yang satu pesawat dengan penulis dari Jakarta.
Memasuki Kota Makassar berarti memasuki aneka kemungkinan untuk mendapatkan hiburan, meskipun terkesan “itu-itu saja”. Agaknya memang tak tersedia banyak pilihan selain taman rekreasi dan bermain, pusat-pusat belanja, resto dan kafe, atau mungkin juga toko buku. Obyek wisata seperti Pantai Losari, jika tidak segera dilengkapi dengan sarana penunjang akan segera membosankan.
Apa yang menyebabkan kurangnya obyek wisata yang representatif? Seorang pengunjung Pantai Losari bernama Uddin mengatakan bahwa hal ini diakibatkan oleh pandangan Pemerintah dan masyarakat yang telah terlanjur terjebak dalam paradigma bahwa obyek wisata itu harus mewah dan mengandung unsur-unsur modern. “Memang kalau tidak mengandung unsur luar negeri, itu bukan obyek wisata? Kalau sarana yang disediakan sudah seperti yang ada di Prancis atau negara-negara maju lain, untuk apalagi para turis itu dating kemari? Dengar saja, musik yang biasa diputar di sini adalah musik barat. Apakah kita tidak punya music sendiri?” tanya Uddin retoris. Aries juga menambahkan bahwa turis lokal pun ingin disuguhi tradisi-tradisi lokal. “Saya sering ditanyai tarian dan lagu-lagu dari kampong saya tapi saya tak bisa menjawab,” ungkapnya lagi.
Kafe-kafe Buku
Pria lajang asal Kabupaten Barrus ini mengharapkan adanya pembenahan yang baik tanpa harus menggusur yang bersifat lokal. Dia lalu menunjuk kreatifitas yang dirintis anak muda berupa kafé-kafé baca di beberapa sudut kota. “Yang mereka lakukan ini tidak merepotkan siapa-siapa. Selain berguna secara ekonomis, mereka ikut mencerdaskan orang-orang di sini. Memang tidak bisa mengharapkan masyarakat langsung suka membaca, tapi harus ada contoh bagi mereka,” tambah pria yang berprofesi sebagai guide ini.
Anak-anak muda tersebut mencoba mewujudkan sebuah oase yang mencerdaskan, bersahaja, namun tetap nyaman sebagai tempat rekreasi. Beberapa café bisa menjadi pilihan untuk kebutuhan rekreasi intelektual. Di bagian utara kota Makassar, Kafebuku bisa menjadi pilihan tepat. Kafebuku terletak di Jalan Tentara Pelajar 141, sekitar 50 meter dari Toko Buku Promedia.
Di sana pengunjung bisa membaca sambil menikmati aneka jenis sajian. “Di sini tersedia bermacam-macam makanan dan minuman. Bakso, pisang goreng keju, roti bakar serta aneka jenis minuman, dan tentu saja berbagai macam jenis buku,” kata Santy, pemilik Kafebuku, yang masih berstatus mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Tidak jauh dari tempat ini sebuah Warung Coto Makassar menyediakan Coto yang selalu disajikan panas-panas.
Tak salah kalau Kafebuku memakai “A new, cozy place to read and eat” sebagai tag line-nya. Suasananya memang nyaman, bahkan dilengkapi pendingin udara yang membuat pengunjung nyaman berlindung dari gerahnya cuaca. Di Jalan Dr. Sam Ratulangi No 136, hadir Bookcholicafe. Suasananya pun nyaman dan tenang, sangat cocok bagi pengunjung untuk menyelesaikan sebuah buku sebelum kembali pada rutinitas kantor, kuliah, atau sekolah.
Bookcholicafe juga menyediakan aneka jenis minuman dan makanan untuk menemani keasyikan membaca, dengan daya tarik koleksi ratusan buku yang tentu saja tidak akan ditemukan di kafe pada umumnya. Kafe baca yang diasuh oleh Azwar ini, seorang mahasiswa STMIK Karisma Makassar, memang masih terbilang baru, namun menjadi atlernatif berakhir pekan yang mengasyikkan.
Buku-buku populer seperti teenlit, chicklit, dan buku-buku how to mendominasi koleksinya. Ini sangat tepat untuk para karyawan dan siswa-siswa SMP dan SMA yang memang banyak berada di seputar jalan utama di kota Makassar ini. Bila membaca sambil menikmati makanan dan minuman belum cukup sebagai pilihan, Rumah Baca Lontarak menawarkan sajian unik: membaca dan membatik.. Terletak di Jalan Monumen Emmy Saelan No 5/43, tempat ini mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda.
Menurut Agis, sang pengelola, mereka mengusung ide “Books, Library, and Handycraft”. Selain sebagai rumah baca, Lontarak yang berdiri pada 4 April 2005 ini, juga telah menjadi distributor buku untuk wilayah Makassar. Buku-buku yang tersedia, dijual lebih murah 10 – 25% bila dibandingkan dengan harga di toko buku.
Di kawasan timur Makassar yang menjadi tempat berdirinya sejumlah perguruan tinggi, berdiri sejumlah kafe baca yang membidik mahasiswa sebagai konsumen utama. Sebutlah, Hitam Putih di Jalan Perintis Kemerdekaan Km. 9, di Kompleks Perumahan Hartaco Jaya, di samping kampus Universitas Islam Makassar.
Sementara tak jauh dari Kampus Universitas Hasanuddin, di Jl Perintis Kemerdekaan No. 76, berdiri Kafe Baca Biblioholic—yang memiliki koleksi 6.000 buku. Bibliocholic yang didirikan 13 April 2003 ini menyediakan aneka minuman, khususnya berbagai jenis kopi yang bisa menjadi teman setia menikmati buku-buku menarik. Dengan ruang perpustakaan yang luas, para pengunjung dimanjakan oleh suasana tenang dan santai untuk menikmati makanan dan minuman sambil membaca.
M. Aan Mansyur, pendiri Bibliocholic dan para pengelola Bibliocholic juga mengadakan kursus penulisan dan diskusi seputar perbukuan, serta aktif menjalankan kegiatan penelitian dan literasi melalui kerjasama dengan komunitas literasi dan penerbitan di kota-kota lainya. Bagi para pencinta sastra dan buku filsafat, Bibliocholic adalah pilihan yang tepat.
Tapi selain buku serius, kafe baca ini pun memiliki koleksi komik yang lengkap. Sementara tidak jauh dari pusat keramaian Mall Panakkukang, berdiri Starbook Cafe di Jl. Bougenville No 31 Panakkukang Mas. Tempat baca ini banyak menyediakan buku-buku filsafat di rak koleksinya. Starbook menyediakan aneka makanan dan minuman, mulai dari yang lokal seperti pallu butung sampai yang internasional seperti sandwich.
Pemerintah Kota Makassar pada bulan Juni 2005 juga telah mencanangkan Gerakan Makassar Gemar Membaca yang salah satu programnya adalah mendirikan taman baca di setiap kecamatan yang ada di Makassar. Bila program ini betul-betul berjalan, maka tidaklah berlebihan mengharapkan Kota Makassar menjelma sebagai lumbung taman bacaan, yang menghadirkan fasilitas rekreasi yang mencerdaskan.
Recent Comments